Pintu Inspirasi

Selamat datang di blog BERANI HIDUP.

Kutuliskan segala refleksi tentang kehidupan yang sempat terlintas atau sengaja kugali dari pengalaman hidupku sehari-hari dalam blog ini.

Warna dasarnya yang hitam barangkali menggambarkan betapa seringkali persepsi kita tentang kehidupan pun serba hitam ... tidak serba jelas, tidak cerah, penuh masalah, dan suram. Bisa jadi kehidupan kita diliputi suasana yang serba hitam: pengalaman duka lebih sering terjadi daripada suka, masalah demi masalah menerpa, masa depan pun tak jelas akan seperti apa.

Tapi, bagiku, hitam menggambarkan sebuah kontras. Di dalamnya warna putih kebaikan, kesucian, ketulusan, kedamaian, dan keadilan tampak jelas dari hitamnya kehidupan. Meski tersubordinasi, nilai-nilai luhur itu menggoda kita untuk meraihnya, merintisnya, dan mewujudkannya di tengah hitam-kelamnya kehidupan yang dominan.

Maka, bagaimana pun hidup adalah sebuah perjalanan, sebuah peziarahan. Jalan yang harus kita tempuh memang panjang, jauh, berliku, dan berdebu. Tapi, di situlah kita diutus oleh Sang Pencipta Kehidupan, Allah Tuhan. Kita musti terus berjalan, melawan dominasi yang serba hitam, membawa lilin-lilin putih-terang, melanjutkan proses penciptaan kebaikan.

Selamat membaca, semoga blog ini menyumbang sedikit inspirasi bagi kehidupan Anda. (Felix Iwan Wijayanto)

Jumat, 12 Desember 2008

Menjadi Fasilitator yang Baik

Suatu hari, ada dua kejadian menarik yang aku alami.

Pertama
, perjumpaanku untuk kedua kalinya dengan seorang kawan lama dari Tarakan, namanya Adi. Ia seorang wiraswasta ulet yang masih selalu menyediakan waktu untuk bekerja juga di Keuskupan Tanjungselor: Komkep, Kom. PSE, Komlit, dan Komsos …. Semuanya sebagai sekretaris. Wuih … Hebat betul orang ini. Kami banyak berdiskusi tentang mendampingi umat dan orang muda di pedalaman, khususnya OMK di Kalimantan Timur. Yang menarik, ada pelajaran lama tapi selalu penting yang aku pelajari dari dia: bahwa untuk mendampingi orang muda, kita harus berupaya sekuat tenaga melakukan secara konsisten apa saja yang kita harapkan kepada mereka dan menjadi teladan mereka, sebelum akhirnya kita boleh berharap mereka mau mengembangkan diri sejalan dengan maksud baik kita.

Jika kita mengharapkan mereka kreatif, kita sendiri harus menjadi seorang pendamping yang kreatif. Jika kita mengharapkan mereka mandiri, kita pun harus menjadi seorang yang mandiri. Jika kita mengharapkan mereka berdaya, kita pun harus menjadi pribadi yang berdaya. Pendek kata, kita harus berani bersentuhan dengan tata nilai dan dinamika pembelajaran jika kita mengharapkan orang muda menggeluti nilai-nilai dan setia dalam proses pembelajaran itu sendiri.

Kedua
, saat rapat bersama teman-teman fasilitator Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak), sebuah program pengembangan diri komprehensif, di Wisma Agustinus, Tomang, Jakarta Barat. Niat mereka untuk ikut setia berproses bersama peserta ingin ditunjukkan dalam banyak hal, salah satunya dengan melakukan renungan harian, seperti yang mereka tugaskan kepada para peserta. Cara ini pun menunjukkan bahwa para fasilitator tidak mau ketinggalan dari peserta dalam mengembangkan diri secara komprehensif, termasuk dalam membiasakan diri kembali untuk berefleksi harian.

Sebagai fasilitator proses pemberdayaan orang muda, aku tahu sejak awal tuntutan-tuntutan seperti di atas. Prinsipnya, fasilitator yang memosisikan dirinya tidak lebih hebat dari peserta justru menemukan kekuatannya pada kesediaannya berproses bersama peserta, dan secara konsisten dan tekun bersedia menempuh tahap-tahap pembelajaran seperti yang dilakukan peserta. Di situlah daya tarik menjadi seorang fasilitator.

Fasilitator yang baik tidak membebani peserta dengan tugas-tugas yang memberatkan peserta sendiri, sementara fasilitator tidak pernah mengalaminya apalagi merasakan betapa beratnya tugas-tugas itu. Fasilitator yang baik tidak seperti orang Farisi yang gila hormat, atau ahli Taurat yang meletakkan beban-beban berat pada orang lain (bdk. Lk. 11:42-46), tetapi dia sendiri justru tidak pernah menyentuh beban itu. Fasilitator yang baik hendaknya meneladan Yesus, yang sungguh-sungguh mewujudkan dalam hidup keseharianNya: ketekunan, keteguhan, keberanian, dan pengorbanan sampai akhir demi mengerjakan perutusan Allah.

Senin, 14 Juli 2008

Berani Berbagi

Ini adalah sharing tentang seorang pembagi. Ia berbagi apa saja: pengalaman dan pengetahuan, sering juga refleksi [meski implisit], segala hal tentang komputer dan internet. Namanya Eko. Ia berbagi lewat web blog-nya: www.maseko.com.



Aku sempatkan setiap hari berkunjung ke web blog-nya. Dari situ aku belajar banyak hal tentang komputer dan internet. Memang, dua hal itu bisa saja dikategorikan hal sepele dan remeh-temeh dalam kehidupan ini. Dua hal itu terlalu kerdil jika dibandingkan dengan semesta kehidupan manusia abad ini. Namun, banyak pelajaran menarik lagi berharga telah aku peroleh dari situ.

Mas Eko ... begitu aku menyapanya ... rajin sekali berbagi lewat web blog-nya itu. Nyaris saban hari ia menulis di sana. Bahkan beberapa kali aku lihat ia menuliskan lebih dari dua artikel dalam sehari. Sungguh produktifitas menulis yang luar biasa. Lebih dari itu, aku memaknainya sebagai spirit berbagi yang luar biasa, bahkan bisa dikatakan minim pamrih [untuk tidak mengatakan tak berpamrih sama sekali].

Bukan pelajaran tentang komputer dan internet yang memikatku darinya. Tapi kesanggupanya untuk berbagi kepada orang lain, yang sepertinya bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah integritas kehendak demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Teruslah menulis, Mas Eko, teruslah berbagi kepada kami. Aku ingin belajar lebih banyak darimu.

Senin, 19 Mei 2008

Hidup Modern: Membayar Kemudahan, Menuai Ketidakberartian

Baru-baru ini sebuah provider telepon selular berbasis CDMA meluncurkan produk SMS termurah: Rp. 1,- per karakter! Luar biasa! Iklan produk ini di media cetak pun sangat menggoda. Ditampilkannya dua layar handphone, satu di kanan bertuliskan pesan SMS "Jam 7?", dan satu di kiri [merespon] "Y". Artinya mudah dipahami. Cukup ketik satu karakter, komunikasi lancar, dan bayar Rp. 1,- saja.

Produk layanan komunikasi terbaru ini mewakili fenomena modernitas yang selalu menjanjikan kemudahan dalam hidup manusia modern. Ya, semua bentuk modernitas pasti menawarkan kemudahan. Tak ada yang sebaliknya. Mengalami suasana modernitas membuat kita pun percaya bahwa hidup kita semakin [diper]mudah. Dan kita senang!

Namun, aku berpikir .... modernitas bukannya tanpa pamrih. Seluruh kemudahan hidup yang kita nikmati haruslah kita bayar. Dan untuk sisi komersial inilah modernitas menawarkan kemudahan. kesimpulannya: jika mau lebih mudah, bayar! Bahkan sering kita dengar ungkapan "Tak ada yang gratis untuk hidup di jaman [modern seperti] sekarang!"

Pertanyannya: sungguhkah kemudahaan yang kita bayar itu memajukan hidup kita? Meningkatkan kualitas kemanusiaan kita? Mendekatkan kita pada nilai-nilai hakiki? Atau justru mereduksinya? Bahkan .... mengarahkan kita pada kenihilan .... kekosongan .... ke-tidak berarti-an?

Contoh SMS murah Rp. 1,- per karakter di atas bukan tak sengaja aku tampilkan. Kemudahan dan kemurahan [BAYAR-an]nya memang memikat. Namun, tentunya kita sadar, betapa komunikasi menjadi direduksi, diarahkan pada kenihilan, kekosongan, dan .... akhirnya ... ke-tidak berarti-an. Demi kemudahan dan kemurahan [bayaran], komunikasi antar manusia tak lagi dijiwai hakikat perjumpaan, persentuhan, dan kasih antar manusia .... melainkan lebih dihayati sebagai kecepatan, kepraktisan, dan efektifitas material [yang penting tahu sama tahu].
Dalam kemudahan dan kemurahan [bayaran] itu, bahasa tak lagi punya arti, apalagi indah. Bahasa tak lebih menjadi sekadar media pengantar maksud antara pengirim dan penerima pesan [seperti yang jadi persepsi doktriner mahasiswa Ilmu Komunikasi konvensional]. Semakin lama, bahasa [tak hanya di Indonesia] dirusak kaidah-kaidahnya, makna-maknanya, artistikanya, hanya demi SMS murah.

Bagi kita pengguna SMS, istilah-istilah "baru" telah menggantikan kosa kata "lama" bahasa kita: "sy" [saya], "km" [kamu], "aq" [aku], "bljr" [belajar], "coz" [because/karena] .... dsb. Tanpa sadar, ketrampilan menyederhanakan kata menjadi singkatan-singkatan pun mempengaruhi kecenderungan semakin sederhananya cara berpikir kita. Pada gilirannya, kecenderungan itu menjadi semakin menghilangkan kemampuan kita memikirkan kerumitan persoalan hidup. Pendek kata, pemikiran kita menjadi semakin sempit, kerdil, dan akhirnya tak berarti.

Pada titik itulah kita hanya mampu berpikir segala hal yang tampak di permukaan, sementara potensi kita seharusnya mampu memahami apa yang ada di dasarnya. Otak kita hanya mampu memahami hal-hal yang serba gampang, padahal semakin lama kehidupan menuntut/menantang kita mampu menghadapi persoalan yang semakin sulit.

Kamis, 17 April 2008

Setia dalam Kesendirian

... melanjutkan refleksiku tentang "Bukan yang Banyak yang Akan Menjadi Baik ..."

Di dunia kita kini, kebaikan selalu minoritas, subordinat, kecil, sedikit. Nilai-nilai kebaikan (seperti kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan, keberpihakan pada keadilan dan perdamaian, anti-kekerasan, solidaritas, dsb.) selalu tidak populer berhadapan dengan nilai-nilai oposannya (kelicikan, kesombongan, eksklusifitas, kemenangan yang mengalahkan, kekerasan, individualisme, dsb.)

Maka, kehendak untuk mencintai kebaikan lebih daripada nilai-nilai lawannya pun selalu minoritas, subordinat, kecil, dan sedikit. Dan ini adalah tantangan!

Karena itulah aku sadar, setiap kehendak untuk menghidupi kebaikan, haruslah bersiap menghadapi kesendirian, kesepian, tak banyak kawan, dan tersisihkan. Ia telanjur membawa ide yang tidak populer, tak menarik, tak laku-jual. Menghidupi kebaikan haruslah dengan upaya keras untuk bertahan dan setia dalam kesendirian, kesepian. Menghidupi kebaikan haruslah teguh dalam menghadapi godaan untuk bergabung dengan kawanan yang lebih banyak, yang cenderung mengabaikan kebaikan untuk mengejar kenikmatan.

Bukan yang Banyak yang Akan Menjadi Baik ...

Ya! Bukan yang banyak yang akan menjadi baik, tapi yang baik (meski pada mulanya sedikit) lama-kelamaan akan menjadi banyak!

Ini ungkapan yang sangat berkesan bagiku, terutama saat memikirkan kecenderungan orang yang lebih memperhitungkan kuantitas daripada kualitas, yang lebih merasa nyaman dalam kawanan massal daripada dalam kelompok kecil, yang lebih menyukai kegiatan besar daripada kegiatan kecil dan sederhana.

Biasanya, kecenderungan itu dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang takut menjadi otonom, menjadi diri sendiri, menjadi percaya diri dengan kekuatan sendiri. Maka, dalam kawanan besar/massal, identitas pribadi-pribadi menjadi anonim dan blur, tidak jelas. Dari situ, setiap pribadi tentu merasakan nikmatnya kebersamaan, tapi pada saat yang sama mengabaikan tanggung jawab individu. Dari situ kehidupan hanya diperhitungkan secara general, tidak secara khas. Dari situ pula kelemahan tidak perlu tampak, karena yang dominan adalah kekuatan dan keunggulan dalam kelompok besar.

Dalam kelompok besar itu, harapan dan tuntutan akan tanggung jawab pribadi diabaikan. Perubahan/tranformasi individu jarang muncul. Akhirnya, kebersamaan-lah yang menampilkan keindahan selamanya, dan akan selalu memunculkan kerinduan untuk terus-menerus bergerombol dalam kawanan massal.

Tapi, sungguhkah kebaikan mendapat tempat dalam diri setiap pribadi tatkala pribadi-pribadi lebur dan terbenam dalam kawanan massal? Apakah kebaikan tumbuh dan menjadi signifikan pada saat setiap pribadi justru lebih mudah mengikuti kecenderungan kawanan massal?

Biasanya .... TIDAK!!!

Kebaikan bisa menyebar dalam diri setiap pribadi maupun dalam kawanan massal. Tapi, penyemaiannya, pertumbuhannya, dan pembuahannya berlangsung pada saat individu menghidupinya secara pribadi. Sebaliknya, pada saat individu berada dalam arus kecenderungan kawanan massal, kebaikan seringkali mati terlibas oleh pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan kecenderungan kawanan massal pula. Pun jika kebaikan tampak dalam kawanan massal, itu hanya sebuah kebetulan, insiden, sesuatu yang artifisial.

Kebaikan butuh ruang khusus dan serius dalam pikiran, hati, dan perilaku pribadi setiap orang. Di ruang sempit itu, kebaikan saling tertular, bersemi, tumbuh, dan akhirnya berbuah. Kebaikan menyebarkan pesonanya dari satu titik kecil ke titik-titik lain yang meluas, dari satu individu kepada individu-individu lain yang lebih banyak. BUKAN SEBALIKNYA!!

Maka, aku percaya, biasanya .... bukan yang banyak akan menjadi baik, tapi yang baik (meski awalanya sedikit dan terbatas) lama-kelamaan akan menjadi banyak.

Senin, 14 April 2008

Pejamkan Sejenak













Pejamkan sejenak matamu yang lelah
memandangi kilas-kilas peristiwa
Hentikan sejenak langkahmu yang berat
rasakan kelelahan serasa sia-sia
Diamlah sejenak bibirmu tak bicara
Biarkan kata-kata mematung sementara
Biarkan sejenak pemberontakan rasuki jiwa
Dan biarkan hatimu digerakkanNya

Hidup memang penuh peluh
untuk apa saja yang membuatmu penuh
Tapi pernahkah kau berpikir
perlu ada waktu buat nurani berbicara?

Jernihkan sejenak pikiran keruhmu
Coba pahami manusia yang semakin rapuh
Bersihkan sejenak bekal niatanmu
Serahkan diri pada Sang Maha Penentu
Panjatkan sejenak doa sederhanamu
Undanglah Dia masuk ke dalam bingkai hatimu
Rasakan sejenak genggam erat tanganku
Jangan pernah kau abaikan cintaku
Kita s'lalu bersama

Aku-kamu-Dia-kita semua
Duduk-berdiri-dan berjalan bersama
Arahkan langkah dan arahkan hati
Pada jalan Kebenaran Sejati


(syair lagu ciptaanku sendiri ... tercipta saat mendadak sadar pentingnya berhenti sejenak dari rutinitas ... lalu berefleksi dan menggali makna aktifitas ... agar muncul spirit baru yang mendorongku kembali melangkah)

Senin, 07 April 2008

Berbagi

Suatu hari di Roma tahun 2000, hari terakhirku mengikuti rangkaian acara International Youth Forum dan World Youth Day.

Sejak pagi, semua peserta sibuk saling bertukar souvenir atau alamat kontak. Hingga menjelang siang, pertukaran masih terjadi, meski saatnya berpisah hampir tiba. Bis panitia yang akan mengantarkanku dan peserta lain ke bandara sudah siap. Sebagian peserta setujuan juga sudah duduk manis di dalamnya.
Aku masih berbenah, memasukkan semua pakaian dan barang pribadi ke tas ransel, lalu memeriksa seluruh kamar jangan sampai ada barangku yang tertinggal (maklum ... sering aku meninggalkan handuk di acara-acara seperti ini ...).

Tiba-tiba, pintu kamarku (yang setengah terbuka) diketuk. Di sana berdiri si Indian. Tubuhnya kecil-pendek, rambutnya lurus hingga ke pantat. Aku tak pernah tahu namanya, sejak awal tidak pernah berinteraksi dengannya, karena dia hanya bisa berbahasa Spanyol, sedangkan aku hanya bisa berbahasa Inggris dan bahasa isyarat "semau gue". Yang aku tahu, dia anak suku Indian Amazon asli. Kalau tidak salah, ia warga negara Peru.

Kami saling tersenyum saat aku dekati dia. Dia begitu semangat berkata-kata dalam bahasa Spanyol, dan aku tetap tersenyum meski kebingungan. Mungkin sadar aku tidak paham apa yang dia maksud, dia tunjukkan sebuah tas kecil terbuat dari anyaman bambu dan tulisan kecil di balik name-tag (KTP ... kartu tanda peserta) yang tergantung di lehernya. "
EXCHANGE".

"A HA ...!!!" kataku. Aku langsung tahu apa maksudnya. Dia ingin bertukar souvenir. Lalu aku isyaratkan supaya dia masuk ke kamarku, menunggu sebentar, aku akan carikan souvernirku untuknya. Celakanya, ternyata semua souvenir yang aku bawa dari Indonesia telah habis, tinggal souvenir pemberian peserta lain! Bagaimana mungkin aku berikan souvenir bangsa lain ke Indian Amazon itu? Dan semakin sibuk aku bongkar-bongkar backpack-ku mencari souvenir, si Indian Amazon semakin kelihatan resah. Mungkin takut membuat kerepotan, dan mungkin sudah menduga aku tak punya souvenir lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk memberinya baju batik yang sengaja aku bawa dan pakai untuk pertemuan dengan Bapa Paus Yohanes Paulus II di kastil musim panasnya. Sejenak aku berpikir: akankah aku pertukarkan baju bersejarah ini untuk si Indian Amazon? Akankah aku berikan untuknya bukti sejarah satu-satunya bahwa aku pernah memakainya di saat Bapa Suci memeluk dan menciumku seraya menyampaikan salam damai di Perayaan Ekaristi itu? Dan semakin lama aku berpikir, si Indian Amazon semakin resah.

Akhirnya kuputuskan: biarlah aku berikan baju batik itu untuk si Indian Amazon, dan dia akan memberiku tas anyaman bambu. Toh aku masih menyimpan foto peristiwa di balik baju batik itu. Lagi pula, baju batik bukanlah benda yang sulit diperoleh kembali, sepulangku di Jakarta. Aku pun masih punya beberapa potong di lemari kamarku di Civita.

Waktu aku berikan baju itu kepadanya, dia tampak terkejut! Dia raih baju batik itu, dan sambil berkata-kata dalam bahasa Spanyol dia balik-balik baju itu. Sepertinya dia sangat senang dan mengaguminya. Tapi yang tak kusangka, dia memelukku erat-erat, mengucapkan "
thank you" di selang-seling bahasa Spanyolnya berkali-kali, dan matanya berkaca-kaca. Sampai dia meninggalkan kamarku pun dia masih mengucap "thank you" berkali-kali, sesekali membungkukkan badan tanda hormat, sampai akhirnya dia melambaikan tangan dan menghilang di dalam lift.

Mungkin dia tak menyangka tas kecil dari anyaman bambu itu akan bertukar dengan baju batik dari Indonesia. Mungkin dia merasa itu sebuah pertukaran yang tidak sepadan. Tapi saat itu sejenak aku berhenti berkemas-kemas, duduk di tempat tidur, dan merenungkan peristiwa baru saja. Mungkin si India Amazon berpikir itu pertukaran dua barang yang nilainya tidak sepadan. Maka dia sangat gembira, terharu, dan merasakan betapa pengalaman itu sangat berarti. Sungguh pengalaman berbagi yang berkesan dan bermakna dalam. Bahagia rasanya berbagi sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi orang lain.

Aku pun merenung, bukankah banyak hal telah saling kami bagikan di acara International Youth Forum dan World Youth Day itu? Kisah pengalaman menghayati iman, bersinggungan dengan masalah-masalah masyarakat, pemikiran sebagai orang muda, harapan akan Gereja yang lebih mampu membawakan diri sebagai garam dan terang bagi dunia ... dan banyak sekali. Aku pun merasa dikuatkan oleh kehadiran, perjumpaan, dan sharing teman-teman dari negara lain. Mereka menyemangatiku, menitipkan salam buat teman-teman orang muda Katolik Indonesia, dan ikut berdoa, agar kami semakin berani mewartakan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di tengah situasi Indonesia yang mereka lihat sangat mengerikan (waktu itu).

Aku masih merenung sambil memandangi kamarku untuk terakhir kalinya sebelum kutinggalkan. Sesaat lagi aku akan meninggalkan Roma, menuju Jakarta. Pengalaman berbagi ini sungguh mengesankan, hingga aku sangat termotivasi untuk segera pulang dan ikut membangun kondisi Gereja dan masyarakat Indonesia agar semakin baik.