Suatu hari, ada dua kejadian menarik yang aku alami.Pertama, perjumpaanku untuk kedua kalinya dengan seorang kawan lama dari Tarakan, namanya Adi. Ia seorang wiraswasta ulet yang masih selalu menyediakan waktu untuk bekerja juga di Keuskupan Tanjungselor: Komkep, Kom. PSE, Komlit, dan Komsos …. Semuanya sebagai sekretaris. Wuih … Hebat betul orang ini. Kami banyak berdiskusi tentang mendampingi umat dan orang muda di pedalaman, khususnya OMK di Kalimantan Timur. Yang menarik, ada pelajaran lama tapi selalu penting yang aku pelajari dari dia: bahwa untuk mendampingi orang muda, kita harus berupaya sekuat tenaga melakukan secara konsisten apa saja yang kita harapkan kepada mereka dan menjadi teladan mereka, sebelum akhirnya kita boleh berharap mereka mau mengembangkan diri sejalan dengan maksud baik kita.
Jika kita mengharapkan mereka kreatif, kita sendiri harus menjadi seorang pendamping yang kreatif. Jika kita mengharapkan mereka mandiri, kita pun harus menjadi seorang yang mandiri. Jika kita mengharapkan mereka berdaya, kita pun harus menjadi pribadi yang berdaya. Pendek kata, kita harus berani bersentuhan dengan tata nilai dan dinamika pembelajaran jika kita mengharapkan orang muda menggeluti nilai-nilai dan setia dalam proses pembelajaran itu sendiri.
Kedua, saat rapat bersama teman-teman fasilitator Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak), sebuah program pengembangan diri komprehensif, di Wisma Agustinus, Tomang, Jakarta Barat. Niat mereka untuk ikut setia berproses bersama peserta ingin ditunjukkan dalam banyak hal, salah satunya dengan melakukan renungan harian, seperti yang mereka tugaskan kepada para peserta. Cara ini pun menunjukkan bahwa para fasilitator tidak mau ketinggalan dari peserta dalam mengembangkan diri secara komprehensif, termasuk dalam membiasakan diri kembali untuk berefleksi harian.
Sebagai fasilitator proses pemberdayaan orang muda, aku tahu sejak awal tuntutan-tuntutan seperti di atas. Prinsipnya, fasilitator yang memosisikan dirinya tidak lebih hebat dari peserta justru menemukan kekuatannya pada kesediaannya berproses bersama peserta, dan secara konsisten dan tekun bersedia menempuh tahap-tahap pembelajaran seperti yang dilakukan peserta. Di situlah daya tarik menjadi seorang fasilitator.
Fasilitator yang baik tidak membebani peserta dengan tugas-tugas yang memberatkan peserta sendiri, sementara fasilitator tidak pernah mengalaminya apalagi merasakan betapa beratnya tugas-tugas itu. Fasilitator yang baik tidak seperti orang Farisi yang gila hormat, atau ahli Taurat yang meletakkan beban-beban berat pada orang lain (bdk. Lk. 11:42-46), tetapi dia sendiri justru tidak pernah menyentuh beban itu. Fasilitator yang baik hendaknya meneladan Yesus, yang sungguh-sungguh mewujudkan dalam hidup keseharianNya: ketekunan, keteguhan, keberanian, dan pengorbanan sampai akhir demi mengerjakan perutusan Allah.







