<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382</id><updated>2011-04-22T09:56:51.921+07:00</updated><title type='text'>berani hidup</title><subtitle type='html'>lebih baik berani hidup daripada berani mati</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-4249441446112123672</id><published>2008-12-12T17:14:00.007+07:00</published><updated>2008-12-12T17:49:33.523+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Fasilitator yang Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SUJBnWOJkBI/AAAAAAAAAMw/IsgET8kzfVg/s1600-h/edu2.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 161px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SUJBnWOJkBI/AAAAAAAAAMw/IsgET8kzfVg/s200/edu2.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278853857467273234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu hari, ada dua kejadian menarik yang aku alami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;/span&gt;, perjumpaanku untuk kedua kalinya dengan seorang kawan lama dari Tarakan, namanya Adi. Ia seorang wiraswasta ulet yang masih selalu menyediakan waktu untuk bekerja juga di Keuskupan Tanjungselor: Komkep, Kom. PSE, Komlit, dan Komsos …. Semuanya sebagai sekretaris. Wuih … Hebat betul orang ini. Kami banyak berdiskusi tentang mendampingi umat dan orang muda di pedalaman, khususnya OMK di Kalimantan Timur. Yang menarik, ada pelajaran lama tapi selalu penting yang aku pelajari dari dia: bahwa untuk mendampingi orang muda, kita harus berupaya sekuat tenaga melakukan secara konsisten apa saja yang kita harapkan kepada mereka dan menjadi teladan mereka, sebelum akhirnya kita boleh berharap mereka mau mengembangkan diri sejalan dengan maksud baik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengharapkan mereka kreatif, kita sendiri harus menjadi seorang pendamping yang kreatif. Jika kita mengharapkan mereka mandiri, kita pun harus menjadi seorang yang mandiri. Jika kita mengharapkan mereka berdaya, kita pun harus menjadi pribadi yang berdaya. Pendek kata, kita harus berani bersentuhan dengan tata nilai dan dinamika pembelajaran jika kita mengharapkan orang muda menggeluti nilai-nilai dan setia dalam proses pembelajaran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;/span&gt;, saat rapat bersama teman-teman fasilitator Kampus Orang Muda Jakarta (KOMJak), sebuah program pengembangan diri komprehensif, di Wisma Agustinus, Tomang, Jakarta Barat. Niat mereka untuk ikut setia berproses bersama peserta ingin ditunjukkan dalam banyak hal, salah satunya dengan melakukan renungan harian, seperti yang mereka tugaskan kepada para peserta. Cara ini pun menunjukkan bahwa para fasilitator tidak mau ketinggalan dari peserta dalam mengembangkan diri secara komprehensif, termasuk dalam membiasakan diri kembali untuk berefleksi harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai fasilitator proses pemberdayaan orang muda, aku tahu sejak awal tuntutan-tuntutan seperti di atas. Prinsipnya, fasilitator yang memosisikan dirinya tidak lebih hebat dari peserta justru menemukan kekuatannya pada kesediaannya berproses bersama peserta, dan secara konsisten dan tekun bersedia menempuh tahap-tahap pembelajaran seperti yang dilakukan peserta. Di situlah daya tarik menjadi seorang fasilitator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitator yang baik tidak membebani peserta dengan tugas-tugas yang memberatkan peserta sendiri, sementara fasilitator tidak pernah mengalaminya apalagi merasakan betapa beratnya tugas-tugas itu. Fasilitator yang baik tidak seperti orang Farisi yang gila hormat, atau ahli Taurat yang meletakkan beban-beban berat pada orang lain (bdk. Lk. 11:42-46), tetapi dia sendiri justru tidak pernah menyentuh beban itu. Fasilitator yang baik hendaknya meneladan Yesus, yang sungguh-sungguh mewujudkan dalam hidup keseharianNya: ketekunan, keteguhan, keberanian, dan pengorbanan sampai akhir demi mengerjakan perutusan Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-4249441446112123672?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/4249441446112123672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=4249441446112123672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/4249441446112123672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/4249441446112123672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/12/menjadi-fasilitator-yang-baik.html' title='Menjadi Fasilitator yang Baik'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SUJBnWOJkBI/AAAAAAAAAMw/IsgET8kzfVg/s72-c/edu2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-8437584687977761164</id><published>2008-07-14T01:35:00.003+07:00</published><updated>2008-07-14T02:10:02.197+07:00</updated><title type='text'>Berani Berbagi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ini adalah sharing tentang seorang pembagi. Ia berbagi apa saja: pengalaman dan pengetahuan, sering juga refleksi [meski implisit], segala hal tentang komputer dan internet. Namanya Eko. Ia berbagi lewat web blog-nya: &lt;a href="http://maseko.com/"&gt;www.maseko.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://maseko.com/"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/SHpSjwGkH1I/AAAAAAAAAMo/fmv00sDMYuQ/s400/Maseko%27s+Web+Blog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222577492050845522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Aku sempatkan setiap hari berkunjung ke web blog-nya. Dari situ aku belajar banyak hal tentang komputer dan internet. Memang, dua hal itu bisa saja dikategorikan hal sepele dan remeh-temeh dalam kehidupan ini. Dua hal itu terlalu kerdil jika dibandingkan dengan semesta kehidupan manusia abad ini. Namun, banyak pelajaran menarik lagi berharga telah aku peroleh dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Eko ... begitu aku menyapanya ... rajin sekali berbagi lewat web blog-nya itu. Nyaris saban hari ia menulis di sana. Bahkan beberapa kali aku lihat ia menuliskan lebih dari dua artikel dalam sehari. Sungguh produktifitas menulis yang luar biasa. Lebih dari itu, aku memaknainya sebagai spirit berbagi yang luar biasa, bahkan bisa dikatakan minim pamrih [untuk tidak mengatakan tak berpamrih sama sekali].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pelajaran tentang komputer dan internet yang memikatku darinya. Tapi kesanggupanya untuk berbagi kepada orang lain, yang sepertinya bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah integritas kehendak demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah menulis, Mas Eko, teruslah berbagi kepada kami. Aku ingin belajar lebih banyak darimu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-8437584687977761164?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/8437584687977761164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=8437584687977761164' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8437584687977761164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8437584687977761164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/07/berani-berbagi.html' title='Berani Berbagi'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/SHpSjwGkH1I/AAAAAAAAAMo/fmv00sDMYuQ/s72-c/Maseko%27s+Web+Blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-7130642754056413805</id><published>2008-05-19T00:24:00.005+07:00</published><updated>2008-05-19T01:23:11.623+07:00</updated><title type='text'>Hidup Modern: Membayar Kemudahan, Menuai Ketidakberartian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SDByZKtM-tI/AAAAAAAAAMg/vQoJj2hS1bo/s1600-h/_broker_images_wwwmybenefitfactscom_images_cell_phone_conference_3_people-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 215px; height: 131px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SDByZKtM-tI/AAAAAAAAAMg/vQoJj2hS1bo/s320/_broker_images_wwwmybenefitfactscom_images_cell_phone_conference_3_people-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201783346309167826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Baru-baru ini sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;provider&lt;/span&gt; telepon selular berbasis CDMA meluncurkan produk SMS termurah: Rp. 1,- per karakter! Luar biasa! Iklan produk ini di media cetak pun sangat menggoda. Ditampilkannya dua layar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt;, satu di kanan bertuliskan pesan SMS "Jam 7?", dan satu di kiri [merespon] "Y". Artinya mudah dipahami. Cukup ketik satu karakter, komunikasi lancar, dan bayar Rp. 1,- saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk layanan komunikasi  terbaru ini mewakili fenomena modernitas yang selalu menjanjikan kemudahan dalam hidup manusia modern. Ya, semua bentuk modernitas pasti menawarkan kemudahan. Tak ada yang sebaliknya. Mengalami suasana modernitas membuat kita pun percaya bahwa hidup kita semakin [diper]mudah. Dan kita senang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aku berpikir .... modernitas bukannya tanpa pamrih. Seluruh kemudahan hidup yang kita nikmati haruslah kita bayar. Dan untuk sisi komersial inilah modernitas menawarkan kemudahan. kesimpulannya: jika mau lebih mudah, bayar! Bahkan sering kita dengar ungkapan "Tak ada yang gratis untuk hidup di jaman [modern seperti] sekarang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyannya: sungguhkah kemudahaan yang kita bayar itu memajukan hidup kita? Meningkatkan kualitas kemanusiaan kita? Mendekatkan kita pada nilai-nilai hakiki? Atau justru mereduksinya? Bahkan .... mengarahkan kita pada kenihilan .... kekosongan .... ke-tidak berarti-an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh SMS murah Rp. 1,- per karakter di atas bukan tak sengaja aku tampilkan. Kemudahan dan kemurahan [BAYAR-an]nya memang memikat. Namun, tentunya kita sadar, betapa komunikasi menjadi direduksi, diarahkan pada kenihilan, kekosongan, dan .... akhirnya ... ke-tidak berarti-an. Demi kemudahan dan kemurahan [bayaran], komunikasi antar manusia tak lagi dijiwai hakikat perjumpaan, persentuhan, dan kasih antar manusia .... melainkan lebih dihayati sebagai kecepatan, kepraktisan, dan efektifitas material [yang penting tahu sama tahu].&lt;br /&gt;Dalam kemudahan dan kemurahan [bayaran] itu, bahasa tak lagi punya arti, apalagi indah. Bahasa tak lebih menjadi sekadar media pengantar maksud antara pengirim dan penerima pesan [seperti yang jadi persepsi doktriner mahasiswa Ilmu Komunikasi konvensional]. Semakin lama, bahasa [tak hanya di Indonesia] dirusak kaidah-kaidahnya, makna-maknanya, artistikanya, hanya demi SMS murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita pengguna SMS, istilah-istilah "baru" telah menggantikan kosa kata "lama" bahasa kita: "sy" [saya], "km" [kamu], "aq" [aku], "bljr" [belajar], "coz" [because/karena] .... dsb. Tanpa sadar, ketrampilan menyederhanakan kata menjadi singkatan-singkatan pun mempengaruhi kecenderungan semakin sederhananya cara berpikir kita. Pada gilirannya, kecenderungan itu menjadi semakin menghilangkan kemampuan kita memikirkan kerumitan persoalan hidup. Pendek kata, pemikiran kita menjadi semakin sempit, kerdil, dan akhirnya tak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik itulah kita hanya mampu berpikir segala hal yang tampak di permukaan, sementara potensi kita seharusnya mampu memahami apa yang ada di dasarnya. Otak kita hanya mampu memahami hal-hal yang serba gampang, padahal semakin lama kehidupan menuntut/menantang kita mampu menghadapi persoalan yang semakin sulit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-7130642754056413805?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/7130642754056413805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=7130642754056413805' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/7130642754056413805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/7130642754056413805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/05/hidup-modern-semakin-mudah-asal-bayar.html' title='Hidup Modern: Membayar Kemudahan, Menuai Ketidakberartian'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SDByZKtM-tI/AAAAAAAAAMg/vQoJj2hS1bo/s72-c/_broker_images_wwwmybenefitfactscom_images_cell_phone_conference_3_people-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-8980971875921286982</id><published>2008-04-17T12:55:00.003+07:00</published><updated>2008-04-24T04:23:03.058+07:00</updated><title type='text'>Setia dalam Kesendirian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbpP-Z75RI/AAAAAAAAAHY/-WrhtQ4GNO4/s1600-h/sendirian.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbpP-Z75RI/AAAAAAAAAHY/-WrhtQ4GNO4/s200/sendirian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190092081250166034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;... melanjutkan refleksiku tentang "Bukan yang Banyak yang Akan Menjadi Baik ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia kita kini, kebaikan selalu minoritas, subordinat, kecil, sedikit. Nilai-nilai kebaikan (seperti kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan, keberpihakan pada keadilan dan perdamaian, anti-kekerasan, solidaritas, dsb.) selalu tidak populer berhadapan dengan nilai-nilai oposannya (kelicikan, kesombongan, eksklusifitas, kemenangan yang mengalahkan, kekerasan, individualisme, dsb.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kehendak untuk mencintai kebaikan lebih daripada nilai-nilai lawannya pun selalu minoritas, subordinat, kecil, dan sedikit. Dan ini adalah tantangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah aku sadar, setiap kehendak untuk menghidupi kebaikan, haruslah bersiap menghadapi kesendirian, kesepian, tak banyak kawan, dan tersisihkan. Ia telanjur membawa ide yang tidak populer, tak menarik, tak laku-jual. Menghidupi kebaikan haruslah dengan upaya keras untuk bertahan dan setia dalam kesendirian, kesepian. Menghidupi kebaikan haruslah teguh dalam menghadapi godaan untuk bergabung dengan kawanan yang lebih banyak, yang cenderung mengabaikan kebaikan untuk mengejar kenikmatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-8980971875921286982?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/8980971875921286982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=8980971875921286982' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8980971875921286982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8980971875921286982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/setia-dalam-kesendirian.html' title='Setia dalam Kesendirian'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbpP-Z75RI/AAAAAAAAAHY/-WrhtQ4GNO4/s72-c/sendirian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-743755613651534371</id><published>2008-04-17T12:30:00.004+07:00</published><updated>2008-04-24T04:22:24.712+07:00</updated><title type='text'>Bukan yang Banyak yang Akan Menjadi Baik ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbl5OZ75QI/AAAAAAAAAHQ/FzOh8q414vE/s1600-h/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbl5OZ75QI/AAAAAAAAAHQ/FzOh8q414vE/s200/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190088391873258754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya! Bukan yang banyak yang akan menjadi baik, tapi yang baik (meski pada mulanya sedikit) lama-kelamaan akan menjadi banyak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ungkapan yang sangat berkesan bagiku, terutama saat memikirkan kecenderungan orang yang lebih memperhitungkan kuantitas daripada kualitas, yang lebih merasa nyaman dalam kawanan massal daripada dalam kelompok kecil, yang lebih menyukai kegiatan besar daripada kegiatan kecil dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, kecenderungan itu dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang takut menjadi otonom, menjadi diri sendiri, menjadi percaya diri dengan kekuatan sendiri. Maka, dalam kawanan besar/massal, identitas pribadi-pribadi menjadi anonim dan blur, tidak jelas. Dari situ, setiap pribadi tentu merasakan nikmatnya kebersamaan, tapi pada saat yang sama mengabaikan tanggung jawab individu. Dari situ kehidupan hanya diperhitungkan secara general, tidak secara khas. Dari situ pula kelemahan tidak perlu tampak, karena yang dominan adalah kekuatan dan keunggulan dalam kelompok besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kelompok besar itu, harapan dan tuntutan akan tanggung jawab pribadi diabaikan. Perubahan/tranformasi individu jarang muncul. Akhirnya, kebersamaan-lah yang menampilkan keindahan selamanya, dan akan selalu memunculkan kerinduan untuk terus-menerus bergerombol dalam kawanan massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sungguhkah kebaikan mendapat tempat dalam diri setiap pribadi tatkala pribadi-pribadi lebur dan terbenam dalam kawanan massal? Apakah kebaikan tumbuh dan menjadi signifikan pada saat setiap pribadi justru lebih mudah mengikuti kecenderungan kawanan massal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya .... TIDAK!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan bisa menyebar dalam diri setiap pribadi maupun dalam kawanan massal. Tapi, penyemaiannya, pertumbuhannya, dan pembuahannya berlangsung pada saat individu menghidupinya secara pribadi. Sebaliknya, pada saat individu berada dalam arus kecenderungan kawanan massal, kebaikan seringkali mati terlibas oleh pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan kecenderungan kawanan massal pula. Pun jika kebaikan tampak dalam kawanan massal, itu hanya sebuah kebetulan, insiden, sesuatu yang artifisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan butuh ruang khusus dan serius dalam pikiran, hati, dan perilaku pribadi setiap orang. Di ruang sempit itu, kebaikan saling tertular, bersemi, tumbuh, dan akhirnya berbuah. Kebaikan menyebarkan pesonanya dari satu titik kecil ke titik-titik lain yang meluas, dari satu individu kepada individu-individu lain yang lebih banyak. BUKAN SEBALIKNYA!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, aku percaya, biasanya .... bukan yang banyak akan menjadi baik, tapi yang baik (meski awalanya sedikit dan terbatas) lama-kelamaan akan menjadi banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-743755613651534371?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/743755613651534371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=743755613651534371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/743755613651534371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/743755613651534371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/bukan-yang-banyak-yang-akan-menjadi.html' title='Bukan yang Banyak yang Akan Menjadi Baik ...'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAbl5OZ75QI/AAAAAAAAAHQ/FzOh8q414vE/s72-c/02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-2697103212883138870</id><published>2008-04-14T15:00:00.007+07:00</published><updated>2008-04-16T09:43:34.171+07:00</updated><title type='text'>Pejamkan Sejenak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAVlBeZ75PI/AAAAAAAAAHI/vAPmci8uJZc/s1600-h/Mata.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 373px; height: 201px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAVlBeZ75PI/AAAAAAAAAHI/vAPmci8uJZc/s200/Mata.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5189665221630485746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejamkan sejenak matamu yang lelah&lt;br /&gt;memandangi kilas-kilas peristiwa&lt;br /&gt;Hentikan sejenak langkahmu yang berat&lt;br /&gt;rasakan kelelahan serasa sia-sia&lt;br /&gt;Diamlah sejenak bibirmu tak bicara&lt;br /&gt;Biarkan kata-kata mematung sementara&lt;br /&gt;Biarkan sejenak pemberontakan rasuki jiwa&lt;br /&gt;Dan biarkan hatimu digerakkanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang penuh peluh&lt;br /&gt;untuk apa saja yang membuatmu penuh&lt;br /&gt;Tapi pernahkah kau berpikir&lt;br /&gt;perlu ada waktu buat nurani berbicara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jernihkan sejenak pikiran keruhmu&lt;br /&gt;Coba pahami manusia yang semakin rapuh&lt;br /&gt;Bersihkan sejenak bekal niatanmu&lt;br /&gt;Serahkan diri pada Sang Maha Penentu&lt;br /&gt;Panjatkan sejenak doa sederhanamu&lt;br /&gt;Undanglah Dia masuk ke dalam bingkai hatimu&lt;br /&gt;Rasakan sejenak genggam erat tanganku&lt;br /&gt;Jangan pernah kau abaikan cintaku&lt;br /&gt;Kita s'lalu bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku-kamu-Dia-kita semua&lt;br /&gt;Duduk-berdiri-dan berjalan bersama&lt;br /&gt;Arahkan langkah dan arahkan hati&lt;br /&gt;Pada jalan Kebenaran Sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(syair lagu ciptaanku sendiri ... tercipta saat mendadak sadar pentingnya berhenti sejenak dari rutinitas ... lalu berefleksi dan menggali makna aktifitas ... agar muncul spirit baru yang mendorongku kembali melangkah)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-2697103212883138870?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/2697103212883138870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=2697103212883138870' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/2697103212883138870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/2697103212883138870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/pejamkan-sejenak.html' title='Pejamkan Sejenak'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SAVlBeZ75PI/AAAAAAAAAHI/vAPmci8uJZc/s72-c/Mata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-7711335212822109844</id><published>2008-04-07T15:15:00.006+07:00</published><updated>2008-04-12T17:06:44.039+07:00</updated><title type='text'>Berbagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACJpKVt8-I/AAAAAAAAAGw/-aWk55l5k2Q/s1600-h/03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACJpKVt8-I/AAAAAAAAAGw/-aWk55l5k2Q/s200/03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188298110973899746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Suatu hari di Roma tahun 2000, hari terakhirku mengikuti rangkaian acara I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;nternational Youth Forum&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;World Youth Day&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi, semua peserta sibuk saling bertukar souvenir atau alamat kontak. Hingga menjelang siang, pertukaran masih terjadi, meski saatnya berpisah hampir tiba. Bis panitia yang akan mengantarkanku dan peserta lain ke bandara sudah siap. Sebagian peserta setujuan juga sudah duduk manis di dalamnya.&lt;br /&gt;Aku masih berbenah, memasukkan semua pakaian dan barang pribadi ke tas ransel, lalu memeriksa seluruh kamar jangan sampai ada barangku yang tertinggal (maklum ... sering aku meninggalkan handuk di acara-acara seperti ini ...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, pintu kamarku (yang setengah terbuka) diketuk. Di sana berdiri si Indian. Tubuhnya kecil-pendek, rambutnya lurus hingga ke pantat. Aku tak pernah tahu namanya, sejak awal tidak pernah berinteraksi dengannya, karena dia hanya bisa berbahasa Spanyol, sedangkan aku hanya bisa berbahasa Inggris dan bahasa isyarat "semau gue". Yang aku tahu, dia anak suku Indian Amazon asli. Kalau tidak salah, ia warga negara Peru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling tersenyum saat aku dekati dia. Dia begitu semangat berkata-kata dalam bahasa Spanyol, dan aku tetap tersenyum meski kebingungan. Mungkin sadar aku tidak paham apa yang dia maksud, dia tunjukkan sebuah tas kecil terbuat dari anyaman bambu dan tulisan kecil di balik name-tag (KTP ... kartu tanda peserta) yang tergantung di lehernya. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;EXCHANGE&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A HA ...!!!" kataku. Aku langsung tahu apa maksudnya. Dia ingin bertukar souvenir. Lalu aku isyaratkan supaya dia masuk ke kamarku, menunggu sebentar, aku akan carikan souvernirku untuknya. Celakanya, ternyata semua souvenir yang aku bawa dari Indonesia telah habis, tinggal souvenir pemberian peserta lain! Bagaimana mungkin aku berikan souvenir bangsa lain ke Indian Amazon itu? Dan semakin sibuk aku bongkar-bongkar backpack-ku mencari souvenir, si Indian Amazon semakin kelihatan resah. Mungkin takut membuat kerepotan, dan mungkin sudah menduga aku tak punya souvenir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku memutuskan untuk memberinya baju batik yang sengaja aku bawa dan pakai untuk pertemuan dengan Bapa Paus Yohanes Paulus II di kastil musim panasnya. Sejenak aku berpikir: akankah aku pertukarkan baju bersejarah ini untuk si Indian Amazon? Akankah aku berikan untuknya bukti sejarah satu-satunya bahwa aku pernah memakainya di saat Bapa Suci memeluk dan menciumku seraya menyampaikan salam damai di Perayaan Ekaristi itu? Dan semakin lama aku berpikir, si Indian Amazon semakin resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuputuskan: biarlah aku berikan baju batik itu untuk si Indian Amazon, dan dia akan memberiku tas anyaman bambu. Toh aku masih menyimpan foto peristiwa di balik baju batik itu. Lagi pula, baju batik bukanlah benda yang sulit diperoleh kembali, sepulangku di Jakarta. Aku pun masih punya beberapa potong di lemari kamarku di Civita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku berikan baju itu kepadanya, dia tampak terkejut! Dia raih baju batik itu, dan sambil berkata-kata dalam bahasa Spanyol dia balik-balik baju itu. Sepertinya dia sangat senang dan mengaguminya. Tapi yang tak kusangka, dia memelukku erat-erat, mengucapkan "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;thank you&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;" di selang-seling bahasa Spanyolnya berkali-kali, dan matanya berkaca-kaca. Sampai dia meninggalkan kamarku pun dia masih mengucap "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;thank you&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;" berkali-kali, sesekali membungkukkan badan tanda hormat, sampai akhirnya dia melambaikan tangan dan menghilang di dalam lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia tak menyangka tas kecil dari anyaman bambu itu akan bertukar dengan baju batik dari Indonesia. Mungkin dia merasa itu sebuah pertukaran yang tidak sepadan. Tapi saat itu sejenak aku berhenti berkemas-kemas, duduk di tempat tidur, dan merenungkan peristiwa baru saja. Mungkin si India Amazon berpikir itu pertukaran dua barang yang nilainya tidak sepadan. Maka dia sangat gembira, terharu, dan merasakan betapa pengalaman itu sangat berarti. Sungguh pengalaman berbagi yang berkesan dan bermakna dalam. Bahagia rasanya berbagi sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun merenung, bukankah banyak hal telah saling kami bagikan di acara International Youth Forum dan World Youth Day itu? Kisah pengalaman menghayati iman, bersinggungan dengan masalah-masalah masyarakat, pemikiran sebagai orang muda, harapan akan Gereja yang lebih mampu membawakan diri sebagai garam dan terang bagi dunia ... dan banyak sekali. Aku pun merasa dikuatkan oleh kehadiran, perjumpaan, dan sharing teman-teman dari negara lain. Mereka menyemangatiku, menitipkan salam buat teman-teman orang muda Katolik Indonesia, dan ikut berdoa, agar kami semakin berani mewartakan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di tengah situasi Indonesia yang mereka lihat sangat mengerikan (waktu itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih merenung sambil memandangi kamarku untuk terakhir kalinya sebelum kutinggalkan. Sesaat lagi aku akan meninggalkan Roma, menuju Jakarta. Pengalaman berbagi ini sungguh mengesankan, hingga aku sangat termotivasi untuk segera pulang dan ikut membangun kondisi Gereja dan masyarakat Indonesia agar semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-7711335212822109844?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/7711335212822109844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=7711335212822109844' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/7711335212822109844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/7711335212822109844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/berbagi.html' title='Berbagi'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACJpKVt8-I/AAAAAAAAAGw/-aWk55l5k2Q/s72-c/03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-4280831918352046003</id><published>2008-04-02T16:22:00.007+07:00</published><updated>2008-04-08T12:23:22.548+07:00</updated><title type='text'>Mukjizat Setiap Saat dan Doa-Doaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/R_r8NQY7JXI/AAAAAAAAAEc/SMQckOUneBo/s1600-h/100_4370+copy.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/R_r8NQY7JXI/AAAAAAAAAEc/SMQckOUneBo/s200/100_4370+copy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5186735225538553202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Melanjutkan refleksiku tentang Mujizat Setiap Saat dan Kesadaranku ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh karena kesadaran bahwa mukjizat terjadi setiap saat dalam hidupku, maka aku merasa pantas bersyukur. Bersyukur pada Sang Mujizat, kare&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;na mukjizatnya setiap saat itu. Bersyukur karena adanya kesadaran semacam itu, yang sempat mampir dalam pikiran dan nuraniku. Bersyukur karena inspirasi semacam itu, yang membuatk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;u semakin mudah mengalami, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;menyaksikan, merasakan mukjizat setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Maka, di dalam doa-doaku, aku seringkali hanya mengucapkan syukur. Syukur ... syukur ... dan syukur ... Lidahku serasa kelu saat ingin meminta sesuatu dalam doa-doaku. Untuk apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Syukurku di setiap doa pun tak sebanding dengan mukjizat yang kuterima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Syukurku di setiap doa pun tak sepadan dengan karunia yang Dia berikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Syukurku di setiap doa pun tak mampu mengimbangi kemurahanNya menjaga dan mendampingiku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Memang aku dididik sejak kecil untuk berdoa, bersyukur, dan bermohon, justru karena Dia adalah Roh yang Maha Pengasih dan Murah Hati.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; "... Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukankah Dia telah memberiku rejeki sebelum aku memohon "... berilah kami rejeki pada hari ini ..."? Bukankah Dia telah mengampun kesalahan-kesalahanku, sebelum aku memohon "... ampunilah kesalahan kami ..."? Bukankah Dia telah berbisik lewat suara hatiku mengingatkanku agar tidak coba-coba masuk ke dalam percobaan sebelum aku memohon "... janganlah masukkan kami ke dalam percobaan ..."? Dan bukankah Dia telah merendahkan diriNya menjadi rupa manusia, memperjuangkan kebaikan dunia sepanjang hidupNya, dan mengorbankan diriNya dalam penderitaan hingga mati dengan cara yang keji demi membebaskanku dari yang jahat sebelum aku memohon "... bebaskanlah kami dari yang jahat ..."?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku merasa tak layak memohon dalam doa-doaku, karena apa yang sesungguhnya kubutuhkan telah Ia berikan, bahkan sebelum aku menyadari aku membutuhkan itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-4280831918352046003?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/4280831918352046003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=4280831918352046003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/4280831918352046003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/4280831918352046003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/mukjizat-setiap-saat-dan-doa-doaku.html' title='Mukjizat Setiap Saat dan Doa-Doaku'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/R_r8NQY7JXI/AAAAAAAAAEc/SMQckOUneBo/s72-c/100_4370+copy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-8196305706703096790</id><published>2008-04-02T15:27:00.006+07:00</published><updated>2008-04-12T16:57:14.959+07:00</updated><title type='text'>Mukjizat Setiap Saat dan Kesadaranku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACDtqVt87I/AAAAAAAAAGY/LlOCwVgQsg4/s1600-h/200187070-002.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 142px; height: 176px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACDtqVt87I/AAAAAAAAAGY/LlOCwVgQsg4/s320/200187070-002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188291591213544370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Akhir-akhir ini, dan seringkali terjadi di waktu-waktu lalu, tersiar kabar menggemparkan tentang mukjizat. Wujudnya beraneka ragam: tangisan darah, bayangan berbentuk wajah di sebuah benda, entah apa lagi. Maka aku bertanya-tanya, apa sih mukjizat itu? Sungguhkah hanya dalam rupa-rupa kejadian gaib sepeti itukah mukjizat terjadi? Atau ....???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saat teringat menggemparkannya kabar-kabar tentang mukjizat, spontan aku mencari-cari di sekelilingku: mungkinkah sedang terjadi mukjizat, dan akulah seseorang yang mendapat kesempatan istimewa menyaksikannya? Tapi, semakin serius usahaku mencari-cari, mukjizat tak kujumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sampailah aku pada sebuah refleksi, hasil dialog bersama sejumlah orang dan perenunganku sendiri. Betapa kita telah menjumpai mukjizat setiap saat? Betapa hidupku ini adalah mukjizat? Sebuah kegaiban yang diakibatkan oleh hubungan cinta bapak dan ibuku, hingga adanya diriku di rahim ibu, lalu lahirlah sesosok manusia yang tumbuh hingga sekarang. Betapa hidup kita terlalu sulit kita pahami jika kita hanya mengandalkan kekuatan manusiawi, dengan segala kapasitas akal budi dan ilmu pengetahuan? Betapa biologi dan teologi hanya sampai pada perbenturan buah-buah pemahaman tentang asal-muasal hidup ini, tapi tak sanggup menuntaskan penjelasannya hingga mencapai penyebab akhir kehidupan ini? Betapa hidupku terus berjalan meniti zaman, dan adalah kekuatan yang Adi Kodrati terasa senantias menjaga dan merawat hidupku?&lt;br /&gt;Betapa terlalu banyak ancaman dan marabahaya nyaris mengakhiri hidupku, tapi toh aku telah dan sedang terus-menerus diselamatkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah .... dengan demikian .... aku mengalami mukjizat setiap saat?&lt;br /&gt;Ya ... itulah mukjizat ... segala sesuatu yang terjadi di luar kekuasaan akal budi dan perilaku manusia ... tapi toh tetap terjadi ... tanpa berhasil dengan sangat memuaskan kita memahami ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-8196305706703096790?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/8196305706703096790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=8196305706703096790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8196305706703096790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/8196305706703096790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/mukjizat-setiap-saat-dan-kesadaranku.html' title='Mukjizat Setiap Saat dan Kesadaranku'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACDtqVt87I/AAAAAAAAAGY/LlOCwVgQsg4/s72-c/200187070-002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5865429407847475382.post-867401988866231085</id><published>2008-04-02T08:43:00.003+07:00</published><updated>2008-04-12T16:54:52.914+07:00</updated><title type='text'>Mengapa "Berani Hidup"?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACG2aVt89I/AAAAAAAAAGo/bwNxS7EfN_0/s1600-h/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACG2aVt89I/AAAAAAAAAGo/bwNxS7EfN_0/s200/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188295040072283090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ya .... berani hidup. Bagiku, ini sikap yang luar biasa berani. Di saat makin banyak orang lebih memilih berani mati, aku justru ingin berani hidup. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan berani mati, orang menjadi mudah menerima kematian. Setelah mati, ia tak mampu brbuat apa pun untuk kehidupan, baik kehidupannya sendiri, maupun kehidupan orang lain. Maka aku ingin lebih berani hidup. Karena hidup adalah mukjizat terbesar yang aku terima dari Allah, Tuhan Yang Esa bagi semua manusia beserta segala rupa makhluk ciptaan dan jagat raya. Keberanian untuk hidup berarti keberanian untuk memelihara kehidupan, mengembangkannya untuk kebaikan, dan mempersembahkannya kembali kepada Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku lebih berani mati, aku lebih mudah menghadapi tantangan yang justru muncul tatkala kehidupan terjadi. Keberanian untuk mati berarti melarikan diri dari kehidupan dan segala tantangannya. Namun aku ingin lebih berani hidup, karena aku menuntut diriku sendiri untuk lebih berani menghadapi tantangan kehidupan, dan berupaya bersama semua orang yang lebih berani hidup untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda pun lebih berani hidup?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5865429407847475382-867401988866231085?l=berani-hidup.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berani-hidup.blogspot.com/feeds/867401988866231085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5865429407847475382&amp;postID=867401988866231085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/867401988866231085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5865429407847475382/posts/default/867401988866231085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berani-hidup.blogspot.com/2008/04/mengapa-berani-hidup.html' title='Mengapa &quot;Berani Hidup&quot;?'/><author><name>Felix Iwan Wijayanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11585334457276982572</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_IweN6MQ0XFY/R_LeEQY7JMI/AAAAAAAAADI/W5RUSGATLic/S220/DSCF1450.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IweN6MQ0XFY/SACG2aVt89I/AAAAAAAAAGo/bwNxS7EfN_0/s72-c/02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
